Wisata Sejarah di Makam Pangeran Diponegoro - WisataTimur

Wisata Sejarah di Makam Pangeran Diponegoro


Awalnya Pangeran Diponegoro sebenarnya akan dibuang ke Tondano, Sulut. Namun, pada tanggal 12 Juni 1830 ketika rombongan mereka yang dikawal oleh Letnan Knoerle tiba di Manado, mereka menemui fakta bahwa Kyai Modjo beserta 62 pengikutnya yang juga menjadi tawanan Belanda akan ditempatkan di Tondano.

Khawatir akan akibat perlawanan seperti apa yang akan terjadi jika Pangeran Diponegoro akan bertemu kembali dengan Kyai Modjo, Knoerle akhirnya menempatkan Diponegoro beserta pengiringnya di Benteng Amsterdam, Manado untuk sementara. 

Tiga tahun berada di benteng ini yakni sejak Juni 1830 hingga Juni 1833, Pangeran dikabarkan tidak lagi memberikan perlawanan. Ia justru kelihatan tidak ada harapan. Pangeran mengalami masa sulit akibat jauh dari koleganya ahli agama Islam juga istri-istri resminya. Selain itu pangeran tidak tahan terhadap udara dingin. Belum lagi ketika tunjangannya pernah dipangkas.

Melihat keadaan ini, serta adanya kabar tentang gerakan rakyat Jawa yang akan menuju Sulut, Diponegoro akhirnya direlokasi diam-diam ke Makassar dengan kapal angkatan laut. Kabar pengasingannya sengaja dibuat simpang siur. Belanda mengaburkan isu jika Pangeran akan diasingkan di Ternate. Padahal Pangeran lalu ditempatkan di Benteng Rotterdam beserta istri, dua anaknya dan 23 pengikutnya.


Selain karena adanya peta perubahan politik negara-negara Eropa yang dianggap sangat berpotensi mempengaruhi daerah jajahan Belanda termasuk Manado, Makassar dipilih karena benteng Rotterdam sangat representatif untuk pengamanan. Di sini adalah pusat kolonial Belanda dan pusat dagang terbesar di Indonesia Timur. Juga pusat mobilisasi pasukan Belanda di kawasan Timur. 

Meski pengamanannya sangat ketat, nampaknya atmosfir Makassar cocok dengan pangeran dan pengikutnya. Apalagi setelah belas kasih akibat pertemuan pangeran Diponegoro dengan Pangeran Henrik yang adalah putera dari pangeran William II, kehidupan Diponegoro serta rombongannya lebih bisa diterima.

Mereka bebas berkeliaran dan bergaul dengan orang-orang militer maupun pribumi sipil Makassar di sekitar benteng. Sebelas tahun di Makassar, barulah pejabat Belanda hendak menawarkan tempat pembuangan baru, tapi pangeran menjawab, “tidak.” Ia ingin menghabiskan sisa hidupnya di Makassar saja.


Nah, diatas adalah kisah singkat dari Pangeran Diponegoro, jika sobat WisataTimur inginberkunjung ke Makassar, jangan lupa berziarah ke makam sekaligus menapak tilas perjalanan sang Pangeran tersebut.

Di dalam komplek Makam Pangeran Diponegoro ini terdapat juga makam istri dan para pengikutnya, makam ini juga berada di tepat tengah kota atau pemukiman padat dan terhimpit bangunan-bangunan beton, makam Pangeran Diponegoro ini juga letaknya tidak jauh dari pelabuhan Soekarno Hatta Makassar.

Hinga kini makam Pangeran Diponegoro sering diziarahi baik dari Kraton Yogyakarta maupun masyarakat Jawa karena merupakan leluhurnya. Pernah ada wacana untuk memindahkan makam ini ke Jogjakarta, namun pemprov Sulawesi Selatan menolaknya dengan alasan mereka menjaga dan merawat makam ini dengan baik.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Wisata Sejarah di Makam Pangeran Diponegoro"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel